Jumat, 14 November 2014

Akhir-Akhir ini saya sedang suka menonton film-film Ramansa dan Motivasi. rasanya seperti saya semester dua kelas dua SMA saja.
Semua Begitu mengkhawatirkan sekaligus membahagiakan. menjengkelkan sekaligus menyenangkan. Mendendam dan memaafkan. Mencaci sekaligus menyanjung. Kesendirian sekaligus ditemani Partner handal. Resah sekaligus menenangkan. lampu-lampu lalu lintas kota Bandung begitu Romantis dengan Hujan Rintik hampir sepanjang hari. kota yang sesaat lalu penuh Kenalpot dan baju Biru, sehabis merayakan sebuah harapan yang menjadi nyata. saya masih disini di Kota Bandung ini. Bundo Bilang saya butuh 1 Semester lagi untuk mendapat kebebasan. yah saya dipenjara sekarang. Saya memenjarakan diri saya sendiri. saya mematikan diri saya sendiri. saya memukul mundur prinsip sendiri. tidak ada yang patut dipersalahkan. ini hanyalah kesalahan saya sendiri sebagai manusia Arogan. aku menjauh dari rekan dan taulan. apalah aku ini jika bukan seorang oportunis. dari film-film itu saya dapat nilai bahwa. sekalinya kau menyerah pada keadaan hidup ini, maka saat itulah kau akan mati dan kalah. jangan takut gagal. Terus, Terus Terus, Berjuang

Kamis, 13 November 2014

Gelora Kawah Candradimuka I

Bahwa terindikasikan banyak  terjadi kemerosotan nilai-nilai luhur Bangsa nan elok yang diberkahi berjuta karunia alam raya ini. Nilai-nilai karakter yang sudah terpelihara dengan amat sangat murni dari tercetusnya awal sejarah bangsa yang konon wlayahnya hampir mencakup daratan dan lautan Asia tenggara sekarang ini. Nilai-nilai yang luhur perlahan harus tergerus oleh sebuah rongrongan arus global yang semakin menjadi-jadi akibat filterisasi yang masih sangat kasar dalam memenerima pengaruh dari internal maupun eksternal sesuatu yang dinamakan perubahan. Ibaratnya bak sudah kehilanngan karakter aslinya, bangsa ini terombang-ambing tidak karuan di tengah-tengah lautan kemajuan zaman teknologi dan informasi yang menghancurkan batas-batas wilayah negara dan benua.

Bangsa ini belum bisa dan tidak terlalu percaya diri untuk berdiri dikaki sendiri sebagaimana fenomena belakangan ini dimana bangsa kita selalu ketergantungan terhadap bangsa-bangsa lainnya, sebut saja dalam aspek perekonomian. Betapa kita mengalami ketergantungan terhadap barang-barang dan jasa impor. Jika pasar global berkecamuk terkena guncangan maka perekonomian dalam negeripun tak ayal mengalami keguncangan. Peserta didik sebagai pemegang tonggak pergerakan bangsa berikutnya tentunya haruslah memiliki sebuah karakter Mandiri, karakter berdikari. Dahulu pada era presiden Soekarno menjabat sebagai pimpinan tertinggi revolusi bangsa ini, Ia menggelorakan konsep Berdikari sebagai sebuah konsep atas kemandirian bangsa. Konsep yang juga mengilhami beberapa negara di Afrika dan Asia agar percaya pada kekuatan sendiri, percaya pada tenaga sendiri, percaya bisa berdiri di kaki sendiri.  Guna memperbaiki ini semua, tidak lain pendidikan selalu digadang-gadang sebagai obat penyembuh mujarab yang dipercaya masyarakat. 
Tapi Apalah mau dikata, kawah candara dimuka yang mencetak para pendidik ini terlalu dikekang oleh sebuah nama besar yang harus dijaga dengan baik. apapun suara- suara yang melontarkan martir. diberangusnya. calon pendidik yang tidak terdidik untuk bebas. terkungkung, terkekeng, TIDAK ADA KEBEBASAN DISINI.